Resensi Novel Sang Pemimpi
IDENTITAS BUKU :
Judul Buku : Sang Pemimpi
Penulis : Andre Hirata
Penerbit : Bentang ( PT. Bentang Pustaka)
Tahun Terbit : 2006
Genre : Petualangan dan Pendidikan
Jumlah Halaman : x + 292 halaman
ISBN :
979-3062-92-4
Pendahuluan
Sang
pemimpi merupakan salah satu novel yang berisikan pesan moral tentang meraih
mimpi setinggi langit. Novel ini adalah salah satu novel dari ciptaan Andrea
Hirata, yang sebelumnya mengarang novel tentang laskar pelangi. Novel ini
adalah novel seri ke 2 yang telah di terbitkan pada tahun 2011.
Sinopsis
Novel ini menceritakan tentang perjuangan tiga orang
laki-laki yang telah lulus SMP, melanjutkan belajar ke SMA yang bukan main.
Disinilah perjuangan dan cita-cita ketiga laki-laki ini di mulai yakni Ikal,
Arai dan Jimron.
Ikal adalah salah satu anggota laskar pelangi dan
Arai merupakan saudara sepupu ikal , yang telah menjadi seorang anak yatim
piatu sejak kelas 3 SD dan tinggal di rumah Ikal, ia sudah dianggap seperti
anak sendiri oleh ayah dan ibu ikal, serta jimron adalah anak angkat seorang
pendeta karena sejak kecil yatim piatu juga. Namun pendeta yang baik hati dan
tidak memaksakan keyakinan jimron, malah mengantar jimron menjadi muslim yang
bertakwa.
Ikal dan Arai adalah murid yang pintar di sekolahnya
sedangkan jimron, adalah murid yang gemar terhadap kuda ini memiliki kepandaian
yang biasa-biasa saja malah menduduki ranking 78 dari 160 siswa sedangkan ikal
dan Arai selalu menduduki peringkat 5 dan 3 besar. Lebihnya lagi mimpi mereka
semua sangatlah tangguh.
Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu
melanjutkan belajar ke sorbonne, Prancis. Mereka kagum akan cerita pak Balia
kepala sekolahnya yang selalu menyebut-nyebut bagusnya kota itu.
Kerja keras menjadi kuli ngambat mulai dari pukul
02.00 pagi sampai jam 07.00 pagi dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah
perjuangan kedua laki-laki itu. Mati-matian menabung demi mewujudkan mimpinya.
Meski kalau dilogika tabungan mereka tidak akan cukup untuk bisa kesana. Namun,
jiwa optimismenya (Arai) yang takpernah terbantahkan.
Setelah lulus SMA, Arai dan Ikal merantau ke Jawa,
lebih tepatnya ke Bogor. Sedangkan Jimbron lebih memilih untuk bekerja menjadi
ternak kuda di Belitong. Ia adalah orang yang baik hati, ia mnghadiahkan kedua
celengan kuda miliknya yang berisi tabungannya selama ini kepada Arai dan Ikal.
Ia yakin kalau Arai dan Ikal akan sampai perancis,
maka jiwa jimbron pun akan selalu bersama mereka. Berbulan-bulan menganggur di
Bogor, mencari pekerjaan untuk sekedar bertahan hidup susahnya minta ampun.
Akhirnya setelah banyak pekerjaan 3 bersahabat ditempuh, Ikal mendapat
pekerjaan sebagai tukang pos dan Arai memutuskan untuk merantau ke Kalimantan.
Tahun selanjutnya, Ikal memutuskan untuk kuliah di
salah satu kampus Ekonomi Ui. Setalah lulus dan bergelar S1, ada lowongan untuk
mendapat beasiswa S2 ke Eropa. Dari sekian ribu pesaing dapat ia singkirkan dan
akhirnya sampailah ia dalam pertandingan untuk merebutkan 15 besar.
Pada saat wawancara datang, tak disangka, professor
pengujinya begitu terpukau dengan proposal riset yang diajukan oleh Ikal, Walau
hanya berlatar belakang sarjana ekonomi yang hanya bekerja sebagai tukang pos,
hasil tulisan nya begitu luar biasa.
Araipun ikut serta dalam acara tersebut.
Bertahun-tahun tanpa kabar berita akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam
suatu forum yang terhormat dan indah. Begitulah Arai, selalu penuh kejutan.
Memang selama ini telah direncanakannya bertahun-tahun.
Ternyata Arai kuliah di Universitas Mulawarman dan
mengambil jurusan Biologi. Tidak kalah bagus nya dengan Ikal, proposal risetnya
juga begitu luar biasa dan berbakat dalam menghasilkan teori baru.
Akhirnya sampai juga pada momen mereka pulang
kampung ke Belitong, ketika ada surat datang. Jantung mereka berdebar-debar
saat membuka isinya. Pengumuman penerimaan beasiswa ke Eropa. Arai sangat sedih
karena merindukan kedua orangtuanya. Arai sangat ingin membuka kabar itu
bersama orang yang di rindukannya.
Kegelisahan dimulai. Baik Ikal maupun Arai, keduanya
tidak kuasa saat mengetahui isi dari surat tersebut. Setelah dibuka, hasilnya
adalah Ikal diterima di perguruan yang diimpikan nya yaitu perguruan tinggi
Sorbanne, Perancis. Setelah perlahan mencocokkan dengan surat yang diterima
oleh Arai, Ternyata inilah jawaban dari mimpi-mimpi mereka. Mereka diterima di
Universiitas yang sama. Namun hal ini bukan akhir dari perjuangannya. Tapi
disinilah perjuangan yang lebih keras dari mimpi itu dimulai dan siap
melahirkan anak-anak pemimpi selanjutnya.
Kelebihan
Pada
dasarnya, novel ini diangkat dari sebuah kisah yang luar biasa, dikemas secara
luar biasa oleh pengarang yang luar biasa. Kisah sarat muatan moral,
pendidikan, dan religi ini mampu menjadi inspirasi cemerlang bagi generasi muda
Indonesia yang akhir-akhir ini mati angin.
Di
masa-masa ini, ketika minat masyarakat untuk berbahasa Indonesia yang baik dan
benar cenderung rendah, Andrea Hirata berhasil memperoleh tempat istimewa di
hati para pembaca dengan menghadirkan sebuah novel berbahasa Indonesia baku.
Itu karena sama sekali tidak ditemukan kekakuan dalam pembahasaan novelnya. Ia
sukses menuntun pembaca menuju puncak pemahaman dengan potensi besar melahirkan
motivasi sekuat baja, melalui alur cerita yang apik dan cerdas.
Kelihaian
Andrea dalam mendeskripsikan latar yang mengangkat panji-panji kebudayaan tanah
kelahirannya, lengkap dengan berbagai kondisi perekonomian, politik, sosial,
dan aspek-aspek lain, memang patut diacungi jempol.
Kelemahan Novel
Cukup
sulit menemukan kelemahan dari sebuah novel berkelas dengan rating mencapai
bintang lima. Tapi kelemahan itu tetap ada, yaitu daftar glosarium yang terlalu
banyak sehingga agak menyulitkan pembaca.
Kesimpulan
Novel
ini sangat baik dibaca oleh semua kalangan terutama pada segmentasi remaja. Di
dalam novel ini termuat nilai-nilai positif diantaranya ialah pantang menyerah,
gigih, berani menetapkan target, berani bermimpi, mengajarkan tentang dedikasi,
dan lain sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar